News  

SEMMI Hanya Satu di Bawah Naungan Syarikat Islam, Ali Mansur Minta Dualisme Dihentikan

Ali Mansur Monesa, meminta agar persoalan tersebut segera diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang berlaku

YOGYAKARTA, Targeticw.com – Menjelang pelaksanaan Majelis Tahkim atau Kongres Sarekat Islam (SI) ke-42, persoalan dualisme organisasi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) kembali menjadi perhatian. Kader SEMMI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ali Mansur Monesa, meminta agar persoalan tersebut segera diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang berlaku, Rabu (07/10/2026).

Ali menilai, SEMMI merupakan bagian dari sejarah panjang perjuangan Sarekat Islam dan memiliki kedudukan sebagai organisasi serumpun di bawah naungan Syarikat Islam. Karena itu, menurutnya, keberadaan organisasi yang mengatasnamakan SEMMI di luar struktur resmi perlu mendapat perhatian serius.

“Jika Sarekat Islam adalah rumah besar perjuangan, maka SEMMI merupakan salah satu pilar penyangganya yang memiliki sejarah panjang. Karena itu, persoalan dualisme harus diselesaikan berdasarkan sejarah dan konstitusi organisasi,” kata Ali.

SEMMI Lahir dari Mandat Kongres

Ali menjelaskan, SEMMI bukan organisasi yang lahir secara tiba-tiba. Menurutnya, keberadaan SEMMI berawal dari mandat Kongres Nasional SI ke-XXIX di Solo pada 3–10 April 1955.

Mandat tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Presiden Lajnah Tanfidziyah PSII saat itu, H. Arudji Kartawinata, dengan mendirikan SEMMI pada 20 Sya’ban 1375 Hijriah atau 2 April 1956 di Jakarta.

Ia menyebut sejarah tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam memahami posisi SEMMI dalam struktur organisasi Syarikat Islam.

“SEMMI memiliki sejarah yang jelas dan lahir dari proses organisasi. Karena itu, persoalan keabsahan dan struktur SEMMI harus dikembalikan pada ketentuan organisasi serta konstitusi Syarikat Islam,” ujarnya.

Ali juga menegaskan bahwa keberadaan SEMMI sebagai organisasi serumpun atau badan otonom di bawah Syarikat Islam harus dijalankan sesuai dengan ketentuan AD/ART dan mekanisme organisasi yang berlaku.

Minta Dualisme Diselesaikan Secara Organisasi

Menurut Ali, munculnya klaim kepengurusan atau kelompok yang sama-sama menggunakan nama SEMMI berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan kader dan masyarakat.

Ia berharap perbedaan yang terjadi tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Menurutnya, setiap persoalan internal organisasi seharusnya diselesaikan melalui forum dan mekanisme konstitusional.

“Perbedaan pendapat dalam organisasi merupakan hal yang biasa. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut melahirkan dualisme yang justru merugikan kader dan organisasi,” katanya.

Ali juga mengingatkan kembali sejarah perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto yang menempatkan disiplin organisasi sebagai bagian penting dalam perjalanan Sarekat Islam.

Menurutnya, semangat tersebut perlu dijadikan pelajaran bagi seluruh kader dalam menghadapi dinamika organisasi saat ini.

Jelang Kongres ke-42, Minta Ketegasan

Menjelang pelaksanaan Kongres SI ke-42, Ali meminta pimpinan Syarikat Islam mengambil langkah yang jelas untuk menyelesaikan persoalan dualisme SEMMI.

Ia berharap Majelis Tahkim dapat memberikan penegasan mengenai kedudukan SEMMI serta memastikan seluruh aktivitas organisasi berjalan sesuai dengan konstitusi yang telah ditetapkan.

Ali menyampaikan sejumlah hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian, di antaranya memastikan kedudukan SEMMI yang sah berdasarkan konstitusi Syarikat Islam, memberikan kejelasan terhadap struktur kepengurusan serta atribut organisasi, dan memastikan Dewan Wilayah SI memahami posisi SEMMI dalam struktur organisasi.

“Majelis Tahkim harus menjadi ruang untuk memberikan kepastian organisasi. Jangan sampai persoalan ini terus berlarut dan menimbulkan kebingungan di tingkat kader maupun cabang,” tegasnya.

Kader Diminta Tidak Terprovokasi

Ali juga mengajak seluruh kader SEMMI di berbagai daerah untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh dinamika yang berkembang.

Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya tidak menghilangkan semangat persaudaraan dan tujuan awal SEMMI sebagai organisasi mahasiswa yang berorientasi pada pembentukan kader umat dan kader bangsa.

“Sejarah kita jelas, konstitusi organisasi harus menjadi pedoman, dan Syarikat Islam merupakan induk organisasi. Karena itu, mari kita selesaikan persoalan ini melalui mekanisme yang ada,” katanya.

Ia menilai, penyelesaian persoalan dualisme bukan semata-mata untuk mempertahankan eksistensi sebuah organisasi mahasiswa, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan proses kaderisasi di lingkungan Syarikat Islam.

“SEMMI tidak boleh terpecah. Kita ingin SEMMI tetap menjadi wadah kaderisasi mahasiswa Islam yang mampu melahirkan kader umat dan kader bangsa, sekaligus menjadi bagian dari perjuangan panjang Syarikat Islam,” pungkas Ali.

Editor : Andi Citra