DAERAH  

HMI Gowa Raya Soroti Arah Kebijakan Kemenpora: Pemuda Jangan Hanya Jadi Penonton Pembangunan

HMI Gowa Raya menilai pembangunan pemuda tidak seharusnya hanya diukur melalui capaian prestasi olahraga

GOWA, Targeticw.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya menyoroti arah kebijakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang dinilai perlu memperluas orientasi pembangunan kepemudaan, Rabu (12/8/2026).

HMI Gowa Raya menilai pembangunan pemuda tidak seharusnya hanya diukur melalui capaian prestasi olahraga. Aspek kepemimpinan, intelektualitas, literasi, kaderisasi, organisasi, hingga pemberdayaan sosial dinilai juga harus mendapat perhatian yang seimbang.

Wabendum Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) HMI Cabang Gowa Raya, Muh. Nur Ahlaq Al-Fadri, mengatakan kritik tersebut bukan bentuk pertentangan terhadap dunia olahraga.

Menurutnya, prestasi atlet tetap memiliki arti penting sebagai bagian dari kebanggaan bangsa. Namun, mandat pembangunan kepemudaan jauh lebih luas daripada sekadar pencapaian podium dan medali.

“Kami bangga ketika pemuda Indonesia mengibarkan Merah Putih di podium. Tetapi pembangunan pemuda tidak boleh berhenti pada pertanyaan berapa medali yang diperoleh. Negara juga harus bertanya berapa banyak pemimpin, intelektual, inovator, dan penggerak perubahan yang berhasil dilahirkan,” tegas Ahlaq.

Ia menilai pandangan tersebut memiliki dasar dalam kerangka hukum nasional. UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan mengatur sejumlah aspek pembangunan kepemudaan, termasuk penyadaran, pemberdayaan, pengembangan, kepemimpinan, organisasi kepemudaan dan partisipasi pemuda.

Sementara itu, Perpres Nomor 43 Tahun 2022 menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam pelayanan kepemudaan, termasuk pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan dan pemberdayaan pemuda.

Dengan demikian, kata Ahlaq, pembangunan kepemudaan tidak semestinya dipandang sebagai urusan olahraga semata. Terlebih, Perpres Nomor 187 Tahun 2024 tentang Kementerian Pemuda dan Olahraga menegaskan Kemenpora memiliki mandat di bidang pemuda sekaligus olahraga.

“Jangan sampai kata ‘pemuda’ hanya menjadi nomenklatur, sementara orientasi kebijakannya lebih mudah terlihat ketika berbicara tentang olahraga. Kemenpora harus hadir sebagai rumah besar seluruh potensi pemuda Indonesia,” ujarnya.

Organisasi Pemuda Harus Jadi Mitra Strategis

HMI Cabang Gowa Raya juga menilai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam ekosistem pembangunan nasional.

Menurut Ahlaq, organisasi kepemudaan merupakan ruang kaderisasi yang dapat membentuk kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, pengelolaan perbedaan, advokasi, penyusunan gagasan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, pemerintah dinilai tidak cukup hanya menghadirkan program seremonial atau menjadikan organisasi pemuda sebagai peserta kegiatan.

“Pemuda jangan hanya dicari ketika pemerintah membutuhkan massa. Pemuda harus dicari ketika negara membutuhkan gagasan. Organisasi kepemudaan harus diposisikan sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar pelengkap agenda pemerintah,” tegasnya.

Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Mulai dari krisis literasi, disinformasi digital, ketimpangan pendidikan, pengangguran, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan hingga tantangan demokrasi.

Berbagai persoalan tersebut, menurutnya, membutuhkan generasi muda yang memiliki kapasitas intelektual, kemampuan berpikir kritis dan jiwa kepemimpinan, bukan hanya kemampuan untuk berkompetisi.

Nasionalisme Tak Sekadar Medali

Dalam konteks pembangunan kepemudaan, Ahlaq juga menilai nasionalisme perlu dimaknai secara lebih substantif.

Menurutnya, nasionalisme tidak hanya ditunjukkan ketika bendera Merah Putih berkibar di podium kemenangan. Nasionalisme juga dapat diwujudkan melalui keberanian generasi muda menjaga demokrasi, mengkritisi kebijakan yang dinilai keliru, menawarkan solusi, menjaga lingkungan dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Nasionalisme bukan hanya soal bangga menjadi Indonesia. Nasionalisme juga tentang memastikan Indonesia memiliki generasi yang cukup cerdas untuk membaca zamannya, cukup berani untuk mengkritik kekeliruan, dan cukup berintegritas untuk mengabdi kepada bangsa,” katanya.

Atas dasar itu, HMI Cabang Gowa Raya mendorong Kemenpora memperkuat pendidikan kepemimpinan, literasi dan intelektualitas, pemberdayaan organisasi kepemudaan, partisipasi pemuda dalam perumusan kebijakan, serta program kepeloporan dan pengabdian sosial yang berkelanjutan.

HMI Gowa Raya berharap Kemenpora dapat bergerak dari paradigma “mencetak juara” menuju paradigma “mencetak manusia dan pemimpin.”

“Medali adalah kebanggaan. Tetapi pemimpin adalah masa depan. Karena itu, jangan hanya bangun podium untuk pemuda. Bangun ruang untuk mereka berpikir, berorganisasi, memimpin, berkarya, dan mengabdi,” pungkas Ahlaq.

HMI Cabang Gowa Raya menegaskan kritik tersebut merupakan bagian dari kontrol sosial sekaligus bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Menurut mereka, membangun pemuda berarti membangun masa depan republik. Pemuda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki peran penting dalam menentukan arah Indonesia ke depan.